Sabtu, 10 Desember 2016

Benarkah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menganjurkan perayaan maulid Nabi??

Benarkah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menganjurkan perayaan maulid Nabi??

Jawabannya kami uraikan dalam beberapa poin di bawah ini:
.
1. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah adalah seorang Ulama Sunnah yang dikenal kokoh di atas manhaj dan aqidah Salaf. Beliau Ulama yang tegas menentang kebid'ahan dan tidak basa basi terhadap ahlul batil.
.
Al-Imam Adz-Dzahabi menyampaikan, "Beliau adalah lambang kecerdasan dan cepat dalam memahami permasalahan, paling ahli pemahamannya terhadap Al-Qur'an was Sunnah serta perbedaan pendapat di antara para Ulama dan beliau adalah samuderanya dalil naqli. Di zamannya, beliau adalah satu-satunya Ulama yang mantap dalam hal ilmu, kezuhudan, keberanian, kemurahan, amar ma’ruf nahi munkar, dan banyak karya tulis yang beliau disusun dan sangat menguasai ilmu hadits dan fiqh." (Lihat Siyar A'lamin Nubala').
.
Tak heran jika beliau berhasil mencetak murid-murid yang menonjol dalam ilmu dan pemahaman semisal Ibnul Qayyim, Adz-Dzahabi, Ibnu Katsir, Ibnu 'Abdil Hadi dan yang lainnya rahimahumullah.
.
2. Nash perkataan Ibnu Taimiyyah terkait maulid sebagai berikut:
.
ما يحدثه بعض الناس إما مضاهاة للنصارى في ميلاد عيسى عليه السلام وإما محبة للنبي صلى الله عليه و سلم وتعظيما له والله قد يثيبهم على هذه المحبة والاجتهاد لا على البدع من اتخاذ مولد النبي صلى الله عليه و سلم عيدا مع اختلاف الناس في مولده فإن هذا لم يفعله السلف مع قيام المقتضى له وعدم المانع منه ولو كان هذا خيرا محضا أو راجحا لكان السلف رضي الله عنهم أحق به منا فإنهم كانوا أشد محبة لرسول الله صلى الله عليه و سلم وتعظيما له منا وهم على الخير أحرص وإنما كمال محبته وتعظيمه في متابعته وطاعته واتباع أمره وإحياء سنته باطنا وظاهرا ونشر ما بعث به والجهاد على ذلك بالقلب واليد واللسان فإن هذه هي طريقة السابقين الأولين من المهاجرين والأنصار والذين اتبعوهم بإحسان
.
"Apa yang diada-adakan oleh sebagian orang, boleh jadi perbuatan mereka menyerupai orang-orang Nashrani yang merayakan milad (kelahiran) Nabi ‘Isa ‘alaihissalam, dan boleh jadi karena mereka menyintai dan mengagungkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga mungkin saja Allah memberi ganjaran kepada mereka disebabkan oleh kecintaan dan kesungguhan mereka, bukan karena bid’ah maulid yang mereka ada-adakan dengan perayaan. Bersamaan dengan itu para Ulama telah berselisih pendapat dalam menentukan kapan tanggal kelahiran beliau. Perayaan maulid sama sekali tidak pernah dilakukan oleh para Salafusshalih; padahal saat itu faktor pendorongnya ada, sedangkan faktor penghalangnya tidak ada (artinya sangat mungkin dilakukan namun nyatanya mereka tinggalkan, -pent). Seandainya hal itu baik atau lebih bermaslahat tentu para Salafusshalih radhiyallahu 'anhum lebih dulu melakukannya ketimbang kita. Sebab telah ketahui bersama bahwa mereka para Shahabat adalah orang yang paling mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan paling mengagungkan beliau daripada kita. Mereka adalah orang-orang yang lebih kuat semangatnya dalam kebaikan dibanding kita. Dan sungguh kecintaan dan pengagungan kepada beliau yang sempurna hanyalah dengan mengikuti jalan beliau dan menaati beliau dengan menjalankan segenap perintahnya, menghidupkan sunnahnya secara lahir batin, serta menyebarkan ajaran beliau dan berjihad dengan hati, tangan maupun lisan. Begitulah jalan para pendahulu umat ini dari kalangan Muhajirin, Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan." (Iqtidho Shirothil Mustaqim hal. 294-295)
.
Perhatikan, keterangan Ibnu Taimiyyah di atas tegas menilai perayaan maulid sebagai amalan bid'ah. Bahkan boleh jadi hal itu tergolong bentuk tasyabbuh (menyerupai) kebiasaan Nashara. Kendati demikian, beliau menyampaikan bahwa orang yang benar-benar tulus niatnya mencintai Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan mengagungkan beliau boleh jadi mendapat pahala terlepas dari amalan bid'ahnya itu. Jadi diganjar bukan karena bid'ah perayaan maulid tersebut.
.
Sama halnya dengan kisah janggal yang melansir Ibnu Taimiyyah bertaubat dari madzhab Salaf dan merujuk kepada madzhab Asy'ariyyah yang batil. Faktanya karya tulis beliau belakangan berjudul, "Dar'u Ta'arudhil 'Aqli wan Naqli", mengulas tentang manhaj dan aqidah Salafiyyah serta membantah madzhab-madzhab batil termasuk Asy'ariyyah.
.
3. Seandainya saja Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah atau ada sebagian Ulama selain beliau membolehkan perayaan maulid maka pendapat mereka tertolak dengan sendirinya karena menyelisihi dalil, "Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang bukan dari ajaran kami maka tertolak." (HR. Muslim).
.
Sehingga perbedaan pendapat dalam masalah ini tidak  mu'tabar (tidak teranggap). Maka setiap ada Ulama yang berfatwa menyelisihi dalil karena ijtihadnya, pasti akan muncul Ulama lain yang akan membantah, meluruskan serta mengembalikannya kepada dalil Al-Qur'an, As-Sunnah dan Ijma'. Camkan baik-baik pernyataan para Ulama madzhab di bawah ini:
.
Al-Imam Abu Hanifah (Wafat 150 H):
.
إذا قلت قولاً يخالف كتاب الله تعالى وخبر الرسول صلى الله عليه وسلم فاتركوا قولي
.
“Jika aku berkata tentang suatu pendapat yang menyelisihi Al-Qur’an dan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka tinggalkanlah pendapatku itu.” (Riwayat Al-Imam Al-Fullani dalam “Iqozhul Himam Ulil Abshar” hal. 50)
.
Al-Imam Malik bin Anas (wafat 179 H):
.
إنما أنا بشر أخطئ وأصيب فانظروا في رأيي فكل ما وافق الكتاب والسنة فخذوه وكل ما لم يوافق الكتاب والسنة فاتركوه
.
“Aku hanyalah seorang manusia yang bisa salah dan bisa benar, maka perhatikanlah pendapatku. Setiap pendapatku yang mencocoki dalil Al-Qur’an was Sunnah, maka ambillah. Namun apabila menyelisihi dalil Al-Qur’an was Sunnah maka tinggalkanlah.” (Riwayat Ibnu ‘Abdil Barr dalam “Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlih” 1/622, Ibnu Hazm dalam Ushulul Ahkam 6/149)
.
Al-Imam Asy-Syafi’i (wafat 204 H):
.
كل ما قلت فكان عن النبي صلى الله عليه وسلم خلاف قولي مما يصح فحديث النبي أولى فلا تقلدوني
.
“Setiap dari pendapatku, kemudian ada riwayat shahih dari Nabi menyelisihi pendapatku itu, maka hadits Nabi lebih pantas didahulukan. Janganlah kalian bertaqlid kepadaku.” (Riwayat Ibnu Abi Hatim dalam Adab Asy-Syafi’i hal. 93 & Ibnul Qayyim dalam I’lamul Muwaqqi’in 4/45)
.
Al-Imam Ahmad bin Hanbal (wafat 241 H):
.
لا تقلدني ولا تقلد مالكا ولا الشافعي ولا الأوزاعي ولا الثوري وخذ من حيث أخذوا
.
"Janganlah kalian taqlid kepadaku, jangan pula taqlid kepada Malik, Asy-Syafi’i, Al-Awza’i dan Ats-Tsawri, tetapi ambillah darimana mereka mengambilnya (yakni lihat dalilnya).” (Riwayat Al-Imam Al-Fullani dalam “Iqodzhul Himam Ulil Abshar” hal. 113)
.
Maka menjadi suatu kepastian ilmiyyah bahwa beragama di dalam Islam haruslah berdasarkan dalil yang bersumber dari Al-Qur’an was Sunnah. Itu yang disebut ittiba'. Sekalipun untuk memahami keduanya melalui bimbingan para Ulama juga.
.
4. Ahlul batil sering mencatut nama Ulama manakala mencocoki selera hawa nafsunya. Ketika cocok dipakai, ketika bertentangan ditolak! Begitu modus ahlul bid'ah yang beragama mengedepankan hawa nafsunya. Seandainya memakai dalil maka mereka terjemahkan dengan hawa nafsunya, bukan merujuk kepada manhaj yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ' alaihi wasallam dan para Shahabatnya.
.
Selain itu, mereka hendak membikin talbis (pengkaburan) pemahaman kaum Muslimin. Ahlul batil berusaha menampakkan amalan yang bid'ah terkesan sunnah, yang sunnah terkesan bid'ah, yang syirik terkesan tauhid dan sebaliknya. Maka wajib kita berlaku waro' (hati-hati) dari segala  pemberitaan yang beredar bila meragukan serta menanyakannya kepada para ahli yang terpercaya. Supaya kita selamat dari manipulasi informasi dan terhindar dari syubhat (kerancuan).
.
5. Jika kita merujuk kepada sunnah, maka akan kita dapati bahwa Nabi shallallahu ' alaihi wasallam mensyukuri hari kelahirannya dengan berpuasa, yaitu puasa Senin sebab beliau dilahirkan hari Senin. Bukan merayakannya karena tanggal kelahiran.
.
Puasa hari Senin dalilnya jelas sedangkan mauludan dalilnya tidak ada. Bahkan baru diada-adakan pada abad ke 4 Hijriyah oleh Daulah Syi'ah Fathimiyyah. Sedangkan dalam urusan ibadah tidak berlaku qiyas. Karena hukum asal ibadah adalah haram, tidak boleh dilakukan sampai ada dalil yang mensyariatkannya.
.
6. Ibadah tetaplah ibadah sekalipun dibungkus dengan istilah tradisi, kebiasaan, maupun adat. Karena dalam amalan ibadah ada unsur pengkhususan, keutamaan, dan dalam rangka taqorrub (mendekatkan diri kepada Allah).
.
Sekalipun ada kebaikannya dalam kegiatan bid'ah mauludan (seperti mengingat sirah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam), maka kebatilan tetaplah kebatilan, kebaikan yang ada dalam kegiatan bid'ah tersebut tidaklah dapat mengubah kebatilan menjadi kebaikan. Kenapa tidak sekalian saja belajar sirah setiap hari yang jelas-jelas lebih bermanfaat ketimbang mengingat sirah setahun sekali dalam acara mauludan?
.
Pendek kata, tinggalkanlah perayaan-perayaan bid'ah dalam rangka merealisasikan cinta kita kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Sebab beliau tidak butuh dirayakan tanggal lahirnya seperti kebiasaan orang-orang kafir. Beliau lebih menyukai jika umatnya mengikuti sunnah beliau dan menyebarkannya kepada manusia. Terlebih lagi di saat asingnya sunnah ini seperti sekarang, wa billahit tawfiq.
.
✒_____
Fikri Abul Hasan
.
》》WhatsApp Group《《
"Al-Madrasah As-Salafiyyah"
WASL | " مجموعة المدرسة السلفية "

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar